Indonesian–English parallel text
Sindbad sang Pelaut
Sindbad the Sailor
Andrew Lang
A free bilingual Indonesian–English edition: the Indonesian text with the English beside it, paragraph by paragraph. Read it online, or download it as a dual-language ebook.
Opening the reader…
Sindbad dan Hindbad
Sindbad and Hindbad
Pada zaman Khalifah Harun al-Rasyid hiduplah di Baghdad seorang kuli miskin bernama Hindbad, yang pada suatu hari yang sangat terik disuruh memikul muatan berat dari ujung kota yang satu ke ujung yang lain. Sebelum ia menempuh separuh perjalanan, ia merasa begitu lelah hingga mendapati dirinya di sebuah jalan yang tenang, tempat jalanannya diperciki air mawar dan semilir angin sejuk bertiup, lalu ia menurunkan bebannya ke tanah dan duduk beristirahat di bawah naungan sebuah rumah megah. Tak lama kemudian ia memutuskan bahwa ia tidak mungkin memilih tempat yang lebih menyenangkan; aroma harum kayu gaharu dan pastil tercium dari jendela-jendela yang terbuka dan berpadu dengan wangi air mawar yang menguap dari jalanan yang panas. Di dalam istana itu ia mendengar alunan musik, seolah-olah berasal dari banyak alat musik yang dimainkan dengan mahir, dan kicauan merdu burung bulbul serta unggas lainnya, dan dari situ, serta bau lezat berbagai hidangan lezat yang segera ia sadari, ia menduga bahwa sebuah pesta pora dan kemeriahan sedang berlangsung. Ia bertanya-tanya siapa yang tinggal di rumah megah yang belum pernah ia lihat sebelumnya ini, karena jalan tempat rumah itu berdiri jarang sekali ia lalui. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, ia menghampiri beberapa pelayan berpakaian mewah yang berdiri di dekat pintu, dan bertanya kepada salah seorang dari mereka tentang nama majikan rumah besar tersebut.
In the times of the Caliph Haroun-al-Raschid there lived in Bagdad a poor porter named Hindbad, who on a very hot day was sent to carry a heavy load from one end of the city to the other. Before he had accomplished half the distance he was so tired that, finding himself in a quiet street where the pavement was sprinkled with rose water, and a cool breeze was blowing, he set his burden upon the ground, and sat down to rest in the shade of a grand house. Very soon he decided that he could not have chosen a pleasanter place; a delicious perfume of aloes wood and pastilles came from the open windows and mingled with the scent of the rose water which steamed up from the hot pavement. Within the palace he heard some music, as of many instruments cunningly played, and the melodious warble of nightingales and other birds, and by this, and the appetising smell of many dainty dishes of which he presently became aware, he judged that feasting and merry making were going on. He wondered who lived in this magnificent house which he had never seen before, the street in which it stood being one which he seldom had occasion to pass. To satisfy his curiosity he went up to some splendidly dressed servants who stood at the door, and asked one of them the name of the master of the mansion.
“Apa,” jawab pelayan itu, “Anda tinggal di Baghdad dan tidak tahu bahwa di sinilah tempat tinggal Sindbad sang Pelaut yang mulia, penjelajah termasyhur yang telah mengarungi setiap lautan yang disinari matahari?”
“What,” replied he, “do you live in Bagdad, and not know that here lives the noble Sindbad the Sailor, that famous traveller who sailed over every sea upon which the sun shines?”
Sang kuli, yang sering mendengar orang membicarakan kekayaan Sindbad yang melimpah ruah, mau tidak mau merasa iri kepada orang yang nasibnya tampak begitu bahagia sementara nasibnya sendiri begitu menyedihkan. Sambil menengadahkan pandangannya ke langit, ia berseru dengan lantang,
The porter, who had often heard people speak of the immense wealth of Sindbad, could not help feeling envious of one whose lot seemed to be as happy as his own was miserable. Casting his eyes up to the sky he exclaimed aloud,
“Perhatikanlah, wahai Sang Pencipta segala sesuatu yang Maha Perkasa, perbedaan antara hidup Sindbad dan hidup hamba. Setiap hari hamba menanggung seribu kesukaran dan kemalangan, dan harus bekerja keras bahkan hanya demi mendapatkan roti jelai yang buruk secukupnya untuk menyambung hidup hamba dan keluarga hamba, sementara Sindbad yang beruntung menghambur-hamburkan uang ke mana-mana dan hidup berkelimpahan! Apa yang telah ia perbuat hingga Engkau menganugerahinya kehidupan yang menyenangkan ini—apa yang telah hamba perbuat sehingga layak menerima nasib seberat ini?”
“Consider, Mighty Creator of all things, the differences between Sindbad’s life and mine. Every day I suffer a thousand hardships and misfortunes, and have hard work to get even enough bad barley bread to keep myself and my family alive, while the lucky Sindbad spends money right and left and lives upon the fat of the land! What has he done that you should give him this pleasant life--what have I done to deserve so hard a fate?”
Seraya berkata demikian, ia menghentakkan kakinya ke tanah bagaikan orang yang hilang akal karena penderitaan dan keputusasaan. Tepat pada saat itu seorang pelayan keluar dari istana, dan memegang lengannya seraya berkata, “Mari ikut bersama saya, Sindbad yang mulia, tuan saya, ingin berbicara dengan Anda.”
So saying he stamped upon the ground like one beside himself with misery and despair. Just at this moment a servant came out of the palace, and taking him by the arm said, “Come with me, the noble Sindbad, my master, wishes to speak to you.”
Hindbad sangat terkejut menerima panggilan ini, dan khawatir kata-katanya yang sembrono mungkin telah menimbulkan kemurkaan Sindbad, maka ia mencoba berdalih dengan alasan bahwa ia tidak dapat meninggalkan beban yang telah dipercayakan kepadanya di jalan. Akan tetapi pelayan itu berjanji kepadanya bahwa beban tersebut akan dijaga dengan baik, dan mendesaknya untuk mematuhi panggilan itu begitu rupa sehingga akhirnya sang kuli terpaksa menurut.
Hindbad was not a little surprised at this summons, and feared that his unguarded words might have drawn upon him the displeasure of Sindbad, so he tried to excuse himself upon the pretext that he could not leave the burden which had been entrusted to him in the street. However the lackey promised him that it should be taken care of, and urged him to obey the call so pressingly that at last the porter was obliged to yield.
Free ebook for Kindle, Kobo and other e-readers. Download this parallel text as EPUB, or as AZW3 and MOBI for a Kindle over USB, with a free account. No payment. How to get it onto your e-reader
The full story continues in the reader. Want your own book like this? Make a parallel text from any book.
The same story in German with English · Greek with English · Spanish with English · French with English · Hindi with English · Italian with English · Japanese with English · Korean with English · Dutch with English · Polish with English · Portuguese with English · Romanian with English · Turkish with English · Vietnamese with English · Chinese with English · all languages